Akhirnya Trump-Prabowo Capai Kesepakatan, Barang RI Kena Tarif 19% ke AS, Barang AS ke Indonesia Bertarif 0%. Mari kita telusuri Angka-angka Perdagangan kedua negara ini dan Dampak Kesepakatan Tersebut
MB,NKRI — Pada tahun 2024, neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) mengalami surplus sebesar US$14,37 miliar, meningkat 20,15% dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ekspor Indonesia ke AS pada tahun 2024 mencapai US$26,31 miliar, setelah sempat menurun pada tahun 2023.
Surplus Neraca Perdagangan Indonesia dengan AS selalu surplus dalam beberapa tahun terakhir, meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun 2018 dan 2023.
Nilai ekspor Indonesia ke AS pada tahun 2024 mencapai US$26,31 miliar, menunjukkan peningkatan setelah penurunan pada tahun 2023.
Berdasarkan data BPS, nilai impor Indonesia Desember 2024 mencapai US$21,22 miliar, naik 8,10 persen dibandingkan November 2024 atau naik 11,07 persen dibandingkan Desember 2023. Nilai impor terdiri dari migas senilai US$3,30 miliar (naik 28,26 persen dibandingkan November 2024 atau turun 2,24 persen dibandingkan Desember 2023) dan nonmigas senilai US$17,92 miliar (naik 5,06 persen dibandingkan November 2024 atau naik 13,92 persen dibandingkan Desember 2023).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi:
Kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh mantan presiden AS Donald Trump, memberikan dampak pada perdagangan kedua negara, tetapi neraca perdagangan tetap surplus.
Secara umum, surplus neraca perdagangan antara Indonesia dan AS cenderung meningkat dalam 10 tahun terakhir, meskipun nilainya sempat menurun pada tahun 2018 dan 2023.
Amerika Serikat (AS) telah menetapkan tarif impor senilai 19 persen untuk Indonesia setelah melalui beberapa negosiasi. Di sisi lain, Indonesia memberikan tarif 0 persen untuk produk-produk yang masuk dari Amerika Serikat.
Ekonom sekaligus Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto mengatakan, ada kemungkinan harga barang-barang impor dari Amerika Serikat (AS) akan lebih murah. Namun karena produk-produk AS kurang diminati di Indonesia, pangsa pasarnya hanya di golongan menengah. Pesaing produk AS di Indonesia cukup banyak, sehingga nilai perdagangannya cenderung menurun.
PERKEMBANGAN EKSPOR INDONESIA KE AS berdasarkan data BPS:
- Nilai ekspor Indonesia Desember 2022 mencapai US$23,83 miliar atau turun 1,10 persen dibanding ekspor November 2022. Dibanding Desember 2021, nilai ekspor naik sebesar 6,58 persen.
- Ekspor nonmigas Desember 2022 mencapai US$22,35 miliar, turun 2,73 persen dibanding November 2022, sementara naik 4,99 persen jika dibanding ekspor nonmigas Desember 2021.
- Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Desember 2022 mencapai US$291,98 miliar atau naik 26,07 persen dibanding periode yang sama tahun 2021. Sementara itu, ekspor nonmigas mencapai US$275,96 miliar atau naik 25,80 persen.
- Penurunan terbesar ekspor nonmigas Desember 2022 terhadap November 2022 terjadi pada komoditas bahan bakar mineral sebesar US$483,1 juta (9,44 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada nikel dan barang daripadanya sebesar US$220,0 juta (41,50 persen).
- Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Desember 2022 naik 16,45 persen dibanding periode yang sama tahun 2021, demikian juga ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 10,52 persen, serta ekspor hasil tambang dan lainnya naik 71,22 persen.
- Ekspor nonmigas Desember 2022 terbesar adalah ke Tiongkok, yaitu sebesar US$5,79 miliar, disusul Jepang sebesar US$2,08 miliar dan Amerika Serikat sebesar US$2,06 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 44,39 persen. Sementara itu, ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar US$4,28 miliar dan US$1,64 miliar.
- Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Desember 2022 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$38,59 miliar (13,22 persen), diikuti Kalimantan Timur sebesar US$36,46 miliar (12,49 persen) dan Jawa Timur sebesar US$24,75 miliar (8,48 persen).
PERKEMBANGAN IMPOR INDONESIA DARI AS
- Nilai impor Indonesia Desember 2022 mencapai US$19,94 miliar, naik 5,16 persen dibandingkan November 2022 atau turun 6,61 persen dibandingkan Desember 2021.
- Impor migas Desember 2022 senilai US$3,20 miliar, naik 14,15 persen dibandingkan November 2022 atau turun 5,23 persen dibandingkan Desember 2021.
- Impor nonmigas Desember 2022 senilai US$16,74 miliar, naik 3,60 persen dibandingkan November 2022 atau turun 6,87 persen dibandingkan Desember 2021.
- Peningkatan impor golongan barang nonmigas terbesar Desember 2022 dibandingkan November 2022 adalah serealia senilai US$178,8 juta (66,03 persen). Sementara itu, penurunan terbesar adalah plastik dan barang dari plastik senilai US$124,3 juta (14,46 persen).
- Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Desember 2022 adalah Tiongkok senilai US$67,16 miliar (34,07 persen), Jepang senilai US$17,08 miliar (8,66 persen), dan Thailand senilai US$10,85 miliar (5,50 persen). Impor nonmigas dari ASEAN senilai US$32,85 miliar (16,67 persen) dan Uni Eropa senilai US$11,63 miliar (5,90 persen).
- Menurut golongan penggunaan barang, nilai impor Januari–Desember 2022 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya terjadi peningkatan pada golongan bahan baku/penolong senilai US$33.956,7 juta (23,04 persen) dan barang modal senilai US$7.727,6 juta (26,99 persen), namun barang konsumsi turun US$350,5 juta (1,74 persen).
- Neraca perdagangan Indonesia Desember 2022 mengalami surplus US$3,89 miliar terutama berasal dari sektor nonmigas US$5,61 miliar, namun tereduksi oleh defisit sektor migas senilai US$1,72 miliar.
Jadi konsekuensi Jangka Pendek Kesepakatan tarif ini 19% versus 0% memang membawa konsekuensi ekonomi jangka pendek bagi Indonesia, terutama berupa tekanan terhadap daya saing ekspor dan potensi lonjakan impor konsumtif.
Seorang Bankir Indonesia menilai keputusan Indonesia menerima tarif 19% untuk ekspor ke AS membawa peluang sekaligus risiko bagi perekonomian.
Ada dampak negative jangka pendek, tetapi dampak tersebut masih bisa ditekan jika pemerintah mengelola kebijakan perdagangan secara tepat dan selektif. Ia menilai, dengan pengelolaan yang baik, kesepakatan ini justru berpotensi memberi manfaat strategis bagi Indonesia.
Dalam jangka menengah hingga panjang, terutama melalui peningkatan investasi dan produktivitas industri, dampak positifnya diyakini dapat melampaui risiko yang ditimbulkan.
Kesimpulannya, kehati-hatian dalam menentukan jenis produk yang diimpor dari AS menjadi faktor kunci untuk memaksimalkan peluang sekaligus memitigasi risiko terhadap perekonomian nasional. (Redaksi)
Baca juga: BUKA FORUM LINTAS AGAMA, WAWALI HARRIS BOBIHOE AJAK STAKEHOLDER BERPERAN AKTIF JAGA KERUKUNAN






